HISAB AWAL BULAN MUHARRAM 1433 H

PERHITUNGAN AWAL BULAN QOMARIYAH SISTEM EPHEMERIS

TANGGAL : 29 DZULHIJJAH 1432 H. / 25 NOPEMBER 2011 M.

(Dipersiapkan Untuk Pelaksanaan Ru’yatul Hilal dengan kriteria Imkanur Rukyat 2 Derajat)

NO NAMA-NAMA ISTILAH DATA MATAHARI DAN BULAN
01 Markaz ( Lokasi Ru’yah ) : TANJUNG KODOK LAMONGAN
a. Lintang Tempat (φ) : -06° 51′ 50.22” LS
b. Bujur Tempat (λ) : 112° 21′ 27.80” BT
c. Ketinggian Tempat : 10 Meter
d. Dip (D’) : 00° 05′ 33.94”
02 Ijtima’ ( Konjungsi ) Bulan: : Dzulhijjah 1432 H. Terjadi Pada :
a. Jam : 13 : 18 : 58.71 WIB
b. Hari : Jum’at Paing
c. Tanggal : 25 Nopember 2011 M.
03 Tinggi Matahari Saat Ghurub ( ho ) : -00° 56′ 16.03”
04 Deklinasi Matahari ( δo ) : -19° 16′ 47.00”
05 Sudut Waktu Matahari ( to ) : 93° 24′ 54.72”
06 Saat Matahari Terbenam (Ghurub / Sunset ) : 17 : 31 : 05.79 WIB
07 Asensiorekta Matahari (ARo ) : 240° 44′ 27.41”
08 Asensiorekta Bulan (ARc ) : 242° 41′ 56.62”
09 Sudut Waktu Bulan ( tc ) : 91° 27′ 25.50”
10 Deklinasi Bulan ( δc ) : -21° 02′ 29.45”
11 Irtifa’ (Tinggi) Hilal Haqiqi ( hc ) : 01° 06′ 30.99”
12 Irtifa’ (Tinggi) Hilal Mar’i ( h’c ) : 00° 51′ 31.36”
13 Mukuts (Lama Hilal di atas Ufuq / Horizon) : 00 : 03 : 26.09
14 Saat Ghurub Hilal ( Moonset ) : 17 : 34 : 31.88 WIB
15 Azimut Matahari (Azo ) : 250° 27′ 11.05” Dari Titik Utara Searah Jarum Jam
16 Azimut Bulan ( Azc ) : 248° 56′ 17.56” Dari Titik Utara Searah Jarum Jam
17 Jarak  Matahari – Hilal : 01° 30′ 53.49”
18 Posisi Hilal dari Ufuq : Hilal di atas Ufuq
19 Posisi Hilal dari Matahari : Hilal Di Selatan Matahari
20 Keadaan Hilal : Hilal Miring ke Selatan
21 Lebar Nurul Hilal : 0.05%
22 Awal Bulan : Muharram 1433 H. Jatuh Pada :
a. Hari : Ahad Wage
23 b. TanggalAl- Hasib : 27 Nopember  2011M. Khoirul Anam
Iklan

JADWAL IMSAKIYAH RAMADHAN 1432 H (Download Gratis)

مرحبا يا سيد الشهور   مرحبا يا رمضان

Bulan Ramadhan 1432 H sebentar lagi segera tiba. Sebagai salah satu lembaga yang berkhidmah kepada umat, maka Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama’ Lamongan menerbitkan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1432 H

Bagi Anda yang membutuhkan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1432 H untuk wilayah Lamongan dan sekitarnya secara gratis, silahkan download dengan cara klik  link dibawah ini:

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1432 H

By: M. Khoirul Anam

MACAM-MACAM GERHANA BULAN

Gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.

 

Dengan penjelasan lain, gerhana bulan muncul bila bulan sedang beroposisi dengan matahari. Tetapi karena kemiringan bidang orbit bulan terhadap bidang ekliptika, maka tidak setiap oposisi bulan dengan matahari akan mengakibatkan terjadinya gerhana bulan. Perpotongan bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan 2 buah titik potong yang disebut node, yaitu titik di mana bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana bulan ini akan terjadi saat bulan beroposisi pada node tersebut. Bulan membutuhkan waktu 29,53 hari untuk bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya. Maka seharusnya, jika terjadi gerhana bulan, akan diikuti dengan gerhana matahari karena kedua node tersebut terletak pada garis yang menghubungkan antara matahari dengan bumi.

Sebenarnya, pada peristiwa gerhana bulan, seringkali bulan masih dapat terlihat. Ini dikarenakan masih adanya sinar matahari yang dibelokkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi. Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga, jingga, ataupun coklat.

Gerhana bulan dapat diamati dengan mata telanjang dan tidak berbahaya sama sekali.

Ada dua macam bayangan yang dihasilkan: umbra (bayangan inti) dan penumbra (bayangan tambahan). Jika kita berada dalam umbra sebuah benda (misalnya umbra Bulan), maka sumber cahaya (dalam hal ini Matahari) akan tertutup keseluruhannya oleh benda tersebut. Sedangkan jika kita berada dalam penumbra, sebagian sumber cahaya masih akan terlihat. Namun demikian, saat gerhana bulan total, meski Bulan berada dalam umbra Bumi, Bulan tidak sepenuhnya gelap total karena sebagian cahaya masih bisa sampai ke permukaan Bulan oleh efek refraksi atmosfer bumi.

 

Macam-macam Gerhana Bulan
Berdasarkan keadaan saat fase puncak gerhana, gerhana bulan dapat dibedakan menjadi:

1. Gerhana Bulan Total
Jika saat fase gerhana maksimum gerhana, keseluruhan Bulan masuk ke dalam bayangan inti / umbra Bumi, maka gerhana tersebut dinamakan gerhana bulan total. Gerhana bulan total ini maksimum durasinya bisa mencapai lebih dari 1 jam 47 menit.

2. Gerhana Bulan Sebagian
Jika hanya sebagian Bulan saja yang masuk ke daerah umbra Bumi, dan sebagian lagi berada dalam bayangan tambahan / penumbra Bumi pada saat fase maksimumnya, maka gerhana tersebut dinamakan gerhana bulan sebagian.

3. Gerhana Bulan Penumbral Total
Pada gerhana bulan jenis ke- 3 ini, seluruh Bulan masuk ke dalam penumbra pada saat fase maksimumnya. Tetapi tidak ada bagian Bulan yang masuk ke umbra atau tidak tertutupi oleh penumbra. Pada kasus seperti ini, gerhana bulannya kita namakan gerhana bulan penumbral total.

4. Gerhana Bulan Penumbral Sebagian
Dan gerhana bulan jenis terakhir ini, jika hanya sebagian saja dari Bulan yang memasuki penumbra, maka gerhana bulan tersebut dinamakan gerhana bulan penumbral sebagian.

Gerhana bulan penumbral biasanya tidak terlalu menarik bagi pengamat. Karena pada gerhana bulan jenis ini, penampakan gerhana hampir-hampir tidak bisa dibedakan dengan saat bulan purnama biasa.

Waktu-waktu Kontak dan Fase-fase Gerhana Bulan
Momen terjadinya gerhana Bulan diurut berdasarkan urutan terjadinya:

1. P1
P1 adalah kontak I penumbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan luar dengan penumbra Bumi. P1 menandai dimulainya gerhana bulan secara keseluruhan.

2. P2
P2 adalah kontak II penumbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan dalam dengan penumbra Bumi. Saat P2 terjadi, seluruh piringan Bulan berada di dalam piringan penumbra Bumi.

3. U1
U1 adalah kontak I umbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan luar dengan umbra Bumi.

4. U2
U2 adalah kontak II umbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan dalam dengan umbra Bumi. U2 ini menandai dimulainya fase total dari gerhana bulan.

5. Puncak Gerhana
Puncak gerhana adalah saat jarak pusat piringan Bulan dengan pusat umbra/penumbra mencapai minimum.

6. U3
U3 adalah kontak III umbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan dalam dengan umbra Bumi, ketika piringan Bulan tepat mulai akan meninggalkan umbra Bumi. U3 ini menandai berakhirnya fase total dari gerhana bulan.

7. U4
U4 adalah kontak IV umbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan luar dengan umbra Bumi.

8. P3
P3 adalah kontak III penumbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan dalam dengan penumbra Bumi. P3 adalah kebalikan dari P2.

9. P4
P4 adalah kontak IV penumbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan luar dengan penumbra Bumi. P4 adalah kebalikan dari P1, dan menandai berakhirnya peristiwa gerhana bulan secara keseluruhan.

Berdasarkan waktu-waktu kontak ini, peristiwa gerhana bulan melalui fase-fase:
a. fase gerhana penumbral: selang antara P1-U1, dan antara U4-P4
b. fase gerhana umbral: selang antara U1-U4
c. fase total: selang antara U2-U3

Tidak keseluruhan kontak dan fase akan terjadi saat gerhana bulan. Jenis gerhana bulan menentukan kontak-kontak dan fase gerhana mana saja yang akan terjadi. Misalnya saat gerhana bulan total, keseluruhan kontak dan fase akan dilalui. Untuk gerhana bulan sebagian, karena tidak keseluruhan Bulan masuk dalam umbra Bumi, maka U2 dan U3 tidak akan terjadi, sehingga fase total tidak akan diamati. Untuk gerhana penumbral total, karena Bulan tidak menyentuh umbra Bumi, maka U1, U2, U3, dan U4 tidak akan terjadi, karena itu fase gerhana umbral tidak akan diamati. Sedangkan pada gerhana penumbral sebagian, hanya P1 dan P4 saja yang akan terjadi.

Berbeda dengan gerhana matahari, pada gerhana bulan, waktu-waktu kontak dan saat terjadinya suatu fase gerhana, tidak dipengaruhi oleh lokasi pengamat. Semua pengamat yang berada di belahan Bumi yang mengalami gerhana akan mengamati waktu-waktu kontak (umbra dan penumbra) pada saat yang bersamaan.

Berikut video-video animasi dan visualisasi gerhana bulan yang dipublikasi oleh NASA:

 

Sumber:

Wikipedia

Nasa

By: M.KHOIRUL ANAM

 

 

KADER NU TEMUKAN METODE BARU MENENTUKAN ARAH KIBLAT

Ada kabar gembira! Salah seorang kader Nahdlatul Ulama (NU) menemukan metode baru dalam menentukan arah kiblat. Metode baru ini ditemukan oleh KH Slamet Hambali. Bagaimana metode baru tersebut? Sampai dengan artikel ini ditulis masih belum dikemukakan secara detail. Namun secara garis besar metode itu dapat dibaca pada tulisan dibawah ini (dikutip dari NU Online)

Pakar ilmu falak dari IAIN Walisongo, KH Slamet Hambali, menemukan metode baru menentukan arah kiblat. Metode baru temuan Wakil Ketua Lajnah Falakiyah PBNU ini rencananya akan ia namai Metode Slamet Hambali. Sebab belum ditemukan oleh siapapun alias murni dari gagasannya. “Metode ini tergolong cukup sederhana, karena hanya dengan teknik pembuatan sudut kiblat memakai segitiga siku-siku dan memanfaatkan bayangan matahari. Cara ini dapat mengetahui arah kiblat dari tempat yang kita inginkan,” terangnya pada temu media di Kantor Fakultas Syariah, Kampus III IAIN Walisongo, Rabu (8/6). Hal disampaikannya usai mengikuti seminar pengujian tesisnya yang berjudul “Uji Akurasi Metode Penentuan Arah Qiblat dengan Segitiga Siku-Siku dari Bayangan Matahari” di Aula I lantai II Kampus I IAIN Walisongo Semarang. Seminar dibuka oleh Dekan Fakultas Syariah Dr Imam Yahya dan diberi sambutan panjang oleh oleh Rektor IAIN Walisongo Prof Dr H Muhibbin. Slamet berhasil mempertahankan tesisnya tiga dalam ujian pada Juni lalu. Dewan pengujinya adalah KH Noor Ahmad SS, (Pakar Ilmu Falak, penasihat Lajnah Falakiyah PBNU Jakarta) dan H Nabhan Masputra (Pakar Ilmu Falak, Anggota Badan Hisab Rukyat Pusat Jakarta). Dikatakannya, penemuan berharga itu dia dapatkah setelah meneliti sejak 2010 lalu. “Metode ini saya teliti setahun lalu saat saya mengajukan tesis S2. Sebelum diuji, metode ini sudah saya praktekkan untuk mengukur beberapa masjid yang sedang dibangun,” katanya. “Alhamdulillah saya dapat nilai 100. Para penguji menyatakan metode saya benar-benar orisinil alias tanpa menjiplak dari manapun. Malah disebut sebagai alternatif dari metode pemakaian alat Theodolit dan GPS yang mahal,” akunya sambil berkelakar. Keakuratan metode Slamet Hambali, katanya mengutip penilaian tim penguji, sama halnya metode dengan alat Theodolit ataupun GPS. “Hasilnya 99,9 akurat. Hanya saja tidak bisa diterapkan pada malam hari atau saat mendung,” tuturnya. Lebih lanjut dia menjelaskan, metodenya itu hampir sama dengan metode Theodolit. Yakni memanfaatkan bayangan matahari. Kalau Theodolit perlu uang minimal Rp 30 juta untuk menebus alatnya, sedangkan metodenya cukup uang recek untuk membeli penggaris segitiga siku-siku. Hanya saja, perlu menggunakan rumus secara tepat. Keunggulan lainnya, jika metode theodolit hanya bisa digunakan pada jam-jam terntentu saja, metode Slamet Hambali ini bisa digunakan setiap saat. “Setiap saat, entah itu pagi, siang dan sore asalkan masih ada matahari. Karena perhitungannya juga bergantung dari bayangan matahari,” tegasnya. Di mana saja bisa dipakai? Kata Slamet, metodenya bisa dipakai di manapun belahan dunia. Asal ada matahari, bisa. Penemuan besar ini lansung direspon Ketua Program Ilmu Falak IAIN Walisongo, DR Arja’ Imroni, dengan didaftarkan sebagai hak paten. “Penemuan ini sangat sederhana tapi luar biasa. Arah kiblat bagi umat Islam adalah hal yang mendasar, karena sebagai salah satu syarat sahnya ibadah,” ujarnya kepada wartawan. Pihaknya juga langsung meluncurkan Pusat Layanan Falak (PLF) di kampusnya. Lembaga itu didedikasikan melayani umat untuk membantu menentukan arah kiblat. “Kaum muslimin banyak yang masih bingung menentukan arah kiblat secara tepat, seperti saat pembangunan masjid atau mushola. Kami berharap PLF bisa memberi solusi,” paparnya. Senada dengan Arja’, Dekan Fakultas Syariah, Imam Yahya mengatakan, pihaknya berencana menjadikan tesis itu menjadi buku agar bisa dipelajari masyarakat luas. “Kami sangat menghargai setiap penemuan dosen, terutama yang menunjang keilmuan di Fakultas Syariah,” tuturnya. Ia menerangkan, sebetulnya ada banyak cara menentukan arah kiblat. Biasanya yang digunakan masyarakat adalah ancar-ancar atau perkiraan saja dengan alat bantu kompas. Tentulah belum pasti akurat.Selain itu, ada alat bernama rubu’ mujayyab yang cukup akurat. Namun satuan sudut dalam tabelnya kurang detail karena hanya mencakup satuan menit saja.” Sedang cara lainnya menggunakan Theodolit dan GPS bisa menghasilkan arah kiblat yang akurat. Hanya saja alat tersebut cukup mahal dan tidak banyak orang yang dapat mengoperasikannya.

Sumber: NU Online

Langit yang Mengembalikan

Ayat ke-11 dari Surat Ath Thaariq dalam Al Qur’an, mengacu pada fungsi “mengembalikan” yang dimiliki langit.

“Demi langit yang mengandung hujan.” (Al Qur’an, 86:11)

Kata yang ditafsirkan sebagai “mengandung hujan” dalam terjemahan Al Qur’an ini juga bermakna “mengirim kembali” atau “mengembalikan”.

Sebagaimana diketahui, atmosfir yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan. Penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi. Sekarang, marilah kita cermati sejumlah contoh fungsi “pengembalian” dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut.

Lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan.

Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.

Ionosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.

Lapisan magnet memantulkan kembali partikel-partikel radioaktif berbahaya yang dipancarkan Matahari dan bintang-bintang lainnya ke ruang angkasa sebelum sampai ke Bumi.

Sifat lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Al Qur’an. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah.

 

Sumber: Keajaiban Al Qur’an

Dikutip oleh: M.KHOIRUL ANAM

Atap yang Terpelihara


Gambar ini memperlihatkan sejumlah meteor yang hendak menumbuk bumi. Benda-benda langit yang berlalu lalang di ruang angkasa dapat menjadi ancaman serius bagi Bumi. Tapi Allah, Pencipta Maha Sempurna, telah menjadikan atmosfir sebagai atap yang melindungi bumi. Berkat pelindung istimewa ini, kebanyakan meteorid tidak mampu menghantam bumi karena terlanjur hancur berkeping-keping ketika masih berada di atmosfir.

Dalam Al Qur’an, Allah mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang sangat menarik tentang langit:

“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya.” (Al Qur’an, 21:32)

Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20.

Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup.

Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, – seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi.


Kebanyakan manusia yang memandang ke arah langit tidak pernah berpikir tentang fungsi atmosfir sebagai pelindung. Hampir tak pernah terlintas dalam benak mereka tentang apa jadinya bumi ini jika atmosfir tidak ada. Foto di atas adalah kawah raksasa yang terbentuk akibat hantaman sebuah meteor yang jatuh di Arizona, Amerika Serikat. Jika atmosfir tidak ada, jutaan meteorid akan jatuh ke Bumi, sehingga menjadikannya tempat yang tak dapat dihuni. Namun, fungsi pelindung dari atmosfir memungkinkan makhluk hidup untuk melangsungkan kehidupannya dengan aman. Ini sudah pasti perlindungan yang Allah berikan bagi manusia, dan sebuah keajaiban yang dinyatakan dalam Al Qur’an.

Fungsi pelindung dari atmosfir tidak berhenti sampai di sini. Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar 270 derajat celcius di bawah nol.

Tidak hanya atmosfir yang melindungi bumi dari pengaruh berbahaya. Selain atmosfir, Sabuk Van Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya yang mengancam planet kita. Radiasi ini, yang terus- menerus dipancarkan oleh matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi makhuk hidup. Jika saja sabuk Van Allen tidak ada, semburan energi raksasa yang disebut jilatan api matahari yang terjadi berkali-berkali pada matahari akan menghancurkan seluruh kehidupan di muka bumi.

Dr. Hugh Ross berkata tentang perang penting Sabuk Van Allen bagi kehidupan kita:

Bumi ternyata memiliki kerapatan terbesar di antara planet-planet lain di tata surya kita. Inti bumi yang terdiri atas unsur nikel dan besi inilah yang menyebabkan keberadaan medan magnetnya yang besar. Medan magnet ini membentuk lapisan pelindung berupa radiasi Van-Allen, yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi dari luar angkasa. Jika lapisan pelindung ini tidak ada, maka kehidupan takkan mungkin dapat berlangsung di Bumi. Satu-satunya planet berbatu lain yang berkemungkinan memiliki medan magnet adalah Merkurius – tapi kekuatan medan magnet planet ini 100 kali lebih kecil dari Bumi. Bahkan Venus, planet kembar kita, tidak memiliki medan magnet. Lapisan pelindung Van-Allen ini merupakan sebuah rancangan istimewa yang hanya ada pada Bumi. (http://www.jps.net/bygrace/index. html Taken from Big Bang Refined by Fire by Dr. Hugh Ross, 1998. Reasons To Believe, Pasadena, CA.)

Energi yang dipancarkan dalam satu jilatan api saja, sebagaimana tercatat baru-baru ini, terhitung setara dengan 100 milyar bom atom yang serupa dengan yang dijatuhkan di Hiroshima. Lima puluh delapan jam setelah kilatan tersebut, teramati bahwa jarum magnetik kompas bergerak tidak seperti biasanya, dan 250 kilometer di atas atmosfir bumi terjadi peningkatan suhu tiba-tiba hingga mencapai 2.500 derajat celcius.

Singkatnya, sebuah sistem sempurna sedang bekerja jauh tinggi di atas bumi. Ia melingkupi bumi kita dan melindunginya dari berbagai ancaman dari luar angkasa. Para ilmuwan baru mengetahuinya sekarang, sementara berabad-abad lampau, kita telah diberitahu dalam Al Qur’an tentang atmosfir bumi yang berfungsi sebagai lapisan pelindung.

Energi yang dipancarkan oleh sebuah letusan pada Matahari sungguh amat dahsyat sehingga sulit dibayangkan akal manusia: Letusan tunggal pada matahari setara dengan ledakan 100 juta bom atom yang pernah dijatuhkan di Hiroshima. Bumi terlindungi dari pengaruh merusak akibat pancaran energi ini.

 

Sumber: Keajaiban Al Qur’an

Dikutip oleh: M.KHOIRUL ANAM

Bentuk Bulat Planet Bumi

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam…” (Al Qur’an, 39:5)

Dalam Al Qur’an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai “menutupkan” dalam ayat di atas adalah “takwir”. Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala.

Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al Qur’an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat.

Namun perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar, dan semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini. Sebaliknya, ayat-ayat Al Qur’an berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir. Oleh karena Al Qur’an adalah firman Allah, maka tidak mengherankan jika kata-kata yang tepat digunakan dalam ayat-ayatnya ketika menjelaskan jagat raya.

 

Sumber: Keajaiban Al Qur’an

Dikutip oleh: M.KHOIRUL ANAM