ISLAM DAN WARISAN ILMU ASTRONOMI (ILMU FALAK)

Abad pertengahan merupakan zaman keemasan Islam. Saat itu, Islam berjaya dan mewarnai semua aspek kehidupan, termasuk sains. Kota-kota seperti Baghdad (Irak), Damaskus (Syria), Kairo (Mesir), dan Kordoba (Spanyol) sangat populer dan dianggap sebagai kiblat ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan Muslim yang lahir dan besar di kota-kota ini menyumbangkan teori baru dalam khazanah sains.

Di Eropa saat itu, kondisinya justru terbalik. Eropa saat ini masuk dalam kondisi yang disebut Abad Kegelapan. Tak ada infrastruktur atau pusat pemerintahan yang solid. Dibanding kekhalifahan Islam, Eropa saat itu terbelakang, tak terorganisasi, tanpa strategi penting, dan mengalami kemandekan.
Roda berputar, zaman pun berubah. Khazanah sains Muslim berpindah tangan ke Eropa melalui kekhalifahan di Spanyol yang runtuh. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan kaum Muslim pun terampas. Berikut ini beberapa di antara tonggak sejarah sains Islam:
  • Draf astronomi (abad 14)
Gambar di atas menunjukkan dua diagram buatan Ibnu Ash-Shatir, yang dituangkan dalam draf kajiannya, Nihayat al-Sul fi Tashih al-Usul (A Final Inquiry Concerning the Rectification of Planetary Theory). Dia merupakan ilmuwan yang pertama kali memetakan pergerakan planet di luar angkasa, teori yang diyakini dunia modern sebagai milik Kepler dan Copernicus.
Ilmuwan asal Damaskus (1304-1375) ini menjabarkan teori yang sudah digagas pendahulunya, Ptolomeus. Periode Ash-Shatir inilah yang dilewatkan dalam sejarah astronomi dunia. Setelah Ptolomeus, orang hanya mengenal Copernicus (1473-1543). Padahal, setelah Ptolemaic System ada temuannya yang tak kalah berharga.
Dalam diagramnya yang terkenal itu, Ash-Shatir menjelaskan tentang pergerakan Planet Merkurius. Temuannya saat itu dianggap sebagai sukses pertama representasi gerakan planet di tata surya.
Kini sejarah mulai dikoreksi. Dalam buku Ibn al-Shatir, an Arab Astronomer of the Fourteenth Century, ES Kennedy menulis, ”Satu hal yang sangat sangat penting, bagaimanapun, adalah teori tata surya Ibnu Al-shatir, yang menggunakan parameter sederhana tapi mampu menjelaskan secara identik dengan teori Copernicus yang muncul kemudian (1473-1543).’
  • Astrolabe bola (1480)
Inilah satu-satunya astrolabe bulat yang masih tersisa. Alat ini digunakan untuk memeta bintang dan menandai zodiak. Rete, atau peta bintang itu berupa titik-titik di sekitar globe yang menunjukkan 19 titik bintang.
  • Astrolabe (Abad ke-9)
Fungsi astrolabe adalah untuk pengamatan. Alat ini dapat digunakan untuk menemukan angle matahari, bulan, planet-planet, dan bintang yang letaknya di atas horison. Alat ini juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan survey, seperti membedakan ketinggian gunung. Sebelum muncul astrolabe, telah ada alat pengamatan lain. Namun, astrolabe menjadi unggul karena dia bisa memetakan dengan tepat posisi obyek tata surya, letaknya dari bumi, dan bahkan dimanfaatkan untuk menentukan horoskop. Sebelum jam ditemukan, astrolabe juga dimanfaatkan untuk menentukan waktu siang atau malam.
Pada masa kekhalifahan Islam, astrolabe pun berkembang. Prinsip kerjanya sama, yang membedakan, astrolabe pada masa Islam membantu menjelaskan astronomi Yunani dan memjadi sumber stimulus bagi astronom Eropa abad pertengahan.
  • Celestial Sphere (1285)
Karya Abdul Ar-Rahman as-Sufi ini digunakan untuk membaca konstelasi bintang. Astronom asal Isfahar, Iran ini menuangkannya dalam buku mengenai bintang dalam bahasa Arab (ia sendiri berbahasa Parsi). Ia berteori tentang ekuator angkasa. Dia juga bisa menghitung dengan tepat tahun matahari. As-Sufi mengeksplorasi tak hanya letak bintang tetapi juga konstelasi masing-masing, menggambarkannya, serta mengurai pantulan sinar dan warnanya.
  • Observatorium di Samarqand (Iran).
Didirikan tahun 1424, bangunan ini merupakan satu observatorium terbesar yang pernah dibuat. Bangunan monumental yang digagas oleh Uluh Beg (1394-1449) ini mempunyai radius 40,4 meter.
Observatorium ini memiliki meridian yang sangat besar. John Greaves pada tahun 1652 menulis radius dari meridian itu sama dengan ketinggian kubah masjid Ayasofia di Istambul, Turki.
Di sini, sebanyak 100 ilmuwan berkarya. Salah satu ilmuwan Muslim yang ‘berkantor’ di sini saat itu adalah Al Kashi, seorang astronom, ahli matematika, peneliti, dan arsitek.

Hasil observasi yang dihasilkan oleh lembaga ini merupakan akumulasi penelitian selama tiga dekade — secara ilmiah hasilnya sangat akurat. Hasil penelitian lembaga ini beberapa ada yang tetap eksis hingga saat ini. Misalnya temuan tentang tahun bintang yang meliputi 365 hari, 6 jam, 10 menit, dan 8 detik, serta katalog bintang yang meliputi jumlah 1.012 buah. Observatorium ini aktif hingga tahun 1500-an.

Sumber: Astronomi Amatir (Syukron atas Artikelnya)

2 Tanggapan

  1. syukron ya masyaikhul Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: